Bussiness Gathering di BPKIMI

Senin, 31 Mei 2010 | 13:33 WIB

Bandung, Kompas – Masih sangat sedikit inovasi lembaga penelitian dan
pengembangan Kementerian Perindustrian yang telah diterapkan.
Penyebab utama masalah tersebut adalah gap antara lembaga litbang
dan dunia industri. Kepala Badan Pengkajian Kebijakan Iklim dan Mutu
Industri Kemenperin Dedi Mulyadi, akhir pekan lalu di Bandung,
mengatakan, lembaga litbang Kemenperin terbagi dua, yakni balai besar
serta balai riset dan standardisasi industri.

Masing-masing kelompok lembaga itu terdiri dari 11 balai. Sebagian balai
besar berada di Jawa Barat, yaitu jumlah enam lembaga. Saat ini
lembaga-lembaga penelitian Kemenperin sudah menghasilkan sekitar
5.000 inovasi. Akan tetapi, kurang dari 10 persen inovasi yang sudah
dimanfaatkan industri. Padahal, lembaga-lembaga litbang sudah berdiri
sejak zaman penjajahan Belanda.

“Lembaga litbang Kemenperin dan dunia industri cenderung bergerak
sendiri-sendiri. Pihak-pihak itu seharusnya bisa dijembatani,” ujarnya.
Padahal, menurut Dedi, banyak inovasi yang berpotensi untuk
diterapkan industri.

Balai Besar Tekstil Bandung, misalnya, bisa menghasilkan produk untuk
manfaat medis, yakni benang bedah dari kulit udang pada tahun 2006.
Bentuk inovasi lain adalah pembalut luka dari rumput laut coklat yang
dihasilkan pada 2009.

Selain itu, Balai Besar Pulp dan Kertas Bandung menghasilkan kertas daur
ulang untuk produk seni pada 2000. Inovasi juga dihasilkan Balai Besar
Industri Agro Bogor tahun 2006 berupa arang aktif dari bambu untuk
bahan baku obat penawar racun dan makanan.

Setiap tahun, menurut Dedi, Kemenperin menargetkan minimal lima
inovasi yang layak diterapkan dunia industri dan dipatenkan. “Sekarang
kami telah mengubah pemikiran. Bukan apa yang bisa kami lakukan,
tetapi apa yang dunia usaha butuhkan,” tuturnya.

200 penelitian

Kepala Balai Besar Tekstil Bandung Suseno Utomo mengatakan,
pihaknya memiliki sekitar 200 hasil penelitian. Akan tetapi, hanya sekitar
10 persen dari jumlah itu yang sudah dimanfaatkan dunia industri.
Selama lima tahun saja balai itu telah menghasilkan paling sedikit 52
inovasi.

“Hasil penelitian yang sudah dipatenkan juga masih sedikit. Balai Besar
Tekstil Bandung baru menghasilkan delapan paten,” katanya. Sebagai
upaya mendorong pemanfaatan hasil penelitian lembaga litbang
Kemenperin, menurut Suseno, pihaknya telah menyelenggarakan temu
bisnis (business gathering) di Bandung, akhir pekan lalu. Sekitar 70
orang dari dunia usaha dan 30 orang dari lembaga litbang hadir dalam
acara itu.

Peneliti dan Kepala Seksi Sertifikasi Balai Besar Tekstil Bandung Sinta
Rismayani mengatakan, pihaknya telah meneliti pemanfaatan residu abu
batu bara menjadi batako. Penggunaan abu itu lebih menguntungkan
daripada karbon aktif komersial, seperti tempurung kelapa. Analisis Balai
Besar Tekstil Bandung menunjukkan, karbon aktif batu bara tak
mengandung logam berat.

Teknik mengambang (floating) yang digunakan dapat memisahkan
karbon dari residu abu batu bara. Hak paten hasil penelitian itu telah
didaftarkan tahun 2008. (bay)

Perihal bpkimi
Informasi Hasil Litbang & Kebijakan Iklim Mutu Industri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: