Nanoteknologi dalam Mendukung Green Industry

Istilah Green Industry akhir-akhir ini sering terdengar di telinga kita. Sudah pahamkah anda tentang green Industry??? Apakah anda juga tahu bahwa pengembangan green industry merupakan salah satu misi yang diusung BPPI? Dr.Ir. Atih Surjati Herman, Msc menjelaskan secara rinci konsep green industry dan penerapan nanoteknologi dalam mendukung green industry. Jangan terjemahkan green industry semata-mata menjadi industri hijau, karena green industry tidak hanya selalu seputar industri yang mengangkat isu lingkungan sebagai tema untuk menggencarkan promosi saja, namun lebih dari itu Dr. Atih menjelaskan, green industry adalah konsep holistic dari industri yang ramah terhadap lingkungan. Bagaimana wujudnya? Green industry merupakan industri yang didesain secara berkelanjutan (sustainable designed) dengan tujuan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan, kesehatan,dan penggunanya. Konsep sustainable designed tersebut pada dasarnya merupakan kemampuan memenuhi kebutuhan generasi saat ini tanpa mengganggu kemampuan generasi mendatang untuk melakukan hal yang sama. Hal ini berarti, generasi anak cucu kita harus juga memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhannya akan air bersih, udara bersih, energi, dan sumber daya alam lainnya yang sama dengan apa yang kita konsumsi sekarang. Untuk memenuhi kemampuan tersebut, generasi kita inilah yang memiliki peran penting untuk memanfaatkan sumber daya alam dengan semestinya, sehingga generasi mendatang juga memperoleh manfaat yang sama. Designed Bagaimana industri dapat menjalankan sustainable ini? Dr. Atih yang merupakan Peneliti Utama BPPI dengan bidang keahlian Kebijakan Industri menjelaskan, salah satu yang menjadi unggulan dalam menjalankan green industry. Pendekatan ini merupakan konsep menyeluruh untuk mengeliminasi waste/limbah. Caranya? Sebetulnya mudah saja. Limbah harus dianggap sebagai hasil samping atau disinilah nanoteknologi berperan. Pada skala nanometer atau se-per-satu miliar meter editor sekaligus tim penulis Roadmap Pengembangan Teknologi Industri Berbasis Nanoteknologi ini kecil, nanoteknologi menciptakan produk yang sangat membantu untuk konsep zero waste. Misalnya untuk membersihkan air limbah seperti yang dihasilkan industri tekstil, yang merupakan salah satu limbah industri yang sulit diurai. Dengan menggunakan nano-titanium, (bisa dalam bentuk kompositnya), pengotor dalam limbah cair tersebut dapat diuraikan dan air buangannya dapat digunakan kembali. Kekuatan nanoteknologi tidak berhenti sampai disitu saja. Dengan nanoteknologi, bahan alam dapat didisain sedemikian rupa menjadi produk antara yang mencegah terjadinya pemborosan dalam penggunaan selanjutnya. Dengan menyusun ulang atau merekayasa struktur material di level nanometer, maka akan diperoleh suatu bahan baku yang memiliki sifat istimewa jauh mengungguli material asalnya, sehingga limbah yang selama ini dihasilkan dapat dikurangi. Dr. Atih mengurai berbagai macam contoh, diantaranya limbah kantong plastik yang selama ini dipergunakan untuk kemasan belanja dapat mengancam lingkungan karena masa penguraiannya membutuhkan waktu yang sangat panjang. Dengan memanfaatkan nanoteknologi, plastik kemasan yang kuat namun mudah terurai (degradable plastic) dapat dihasilkan. Contoh lain, nanoteknologi digunakan untuk mebuat lapisan kaca yang tahan terhadap debu, sehingga penggunaannya sebagai kaca otomotif dapat mengurangi fungsi “wiper”. Penggunaannya di industri tekstil dapat menghasilkan kain yang tidak mudah terkena noda, tidak mudah kotor dan bau serta tidak mudah kusut. Penggunaannya di industri keramik di antaranya menjadikan produk keramik menjadi gampang dibersihkan dan kuat. Contoh lainnya adalah penggunaan nano-komposit dalam kemasan makanan, dengan semacam jendela nano yang dapat menjadi indikator batas ambang kadaluarsa makanan yang dikemas. Nanoteknologi pun dapat digunakan untuk menampung panas matahari secara sangat efektif dalam bentuk solar cell sebagai alternatif sumber energi selain listrik dan minyak bumi. Keunggulan yang dimilikinya tersebut menjadikan nanoteknologi menjadi fokus penelitian negara-negara di dunia. Untuk Indonesia, kegiatan penelitian dan pengembangan nanoteknologi telah dimulai di beberapa lembaga riset, yaitu LIPI, BATAN, BPPT, LAPAN, MRC, Kementerian Perindustrian, Kementerian Pertahanan, dan lainnya. Di Kementerian Perindustrian, penelitian dilakukan oleh Balai-balai di lingkungan BPPI. Salah satu diantaranya adalah pengembangan nano-PCC bekerjasama dengan Universitas Andalas yang selanjutnya dipakai untuk meningkatkan kualitas cat tembok, keramik, dan kertas. Selain itu nano-titanium diteliti untuk pemurnian air, dan nano-fiber untuk industri produk tekstil, serta degradrable plastic menggunakan nano-polimer, dsb. Aplikasi nano-partikel di Indonesia sudah dilakukan oleh beberapa sektor industri, diantaranya keramik, tekstil, elektronika, dan farmasi. Perkembangannya cukup positif, pada tahun 2008 industri yang menerapkan nanoteknologi mencapai 35%, dan mengalami peningkatan pada tahun 2009, yaitu mencapai 47%. Walaupun sebagian besar teknologi yang digunakan merupakan teknologi impor, penggunaan teknologi lokal telah mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2008, penggunaan teknologi lokal sebesar 11%, dan meningkat menjadi 36% pada tahun 2009. Dr. Ati h opti mis bahwa penerapan nanoteknologi ini akan sangat mendukung penerapan green industry, bahkan akan menjadi tumpuan daya saing industri nasional kita di masa yang akan datang, terutama karena Indonesia memiliki keunggulan berupa kekayaan sumber daya alam dalam bentuk berbagai bahan tambang yang sangat mungkin ditingkatkan nilai tambahnya. BPPI pun telah menetapkan pengembangan nanoteknologi sebagai prioritas bersama dengan pengembangan industri yang berwawasan lingkungan (green industry). Namun, Dr. Atih menekankan, untuk mewujudkan hal tersebut, diperlukan komitmen bersama dalam bentuk program nasional dan regulasi. Diharapkan dapat menyatukan upaya pengembangan nanoteknologi antara institusi terkait baik pemerintah maupun swasta, selain itu melalui program nasional dan regulasi diharapkan dapat menjembatani serta sebagai upaya pengendalian pengembangan nanoteknologi yang berdampak negatif terhadap lingkungan. Komitmen setiap pihak yang terlibat dalam mengalokasikan dana.
Oleh : Intan Maria

Perihal bpkimi
Informasi Hasil Litbang & Kebijakan Iklim Mutu Industri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: